<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Community: Hasil Penelitian</title>
  <link rel="alternate" href="http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/26" />
  <subtitle>Hasil Penelitian</subtitle>
  <id>http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/26</id>
  <updated>2026-04-08T05:37:46Z</updated>
  <dc:date>2026-04-08T05:37:46Z</dc:date>
  <entry>
    <title>PROBLEMA PENDIDIKAN AGAMA HINDU PADA KELUARGA DENGAN LATAR BELAKANG  PERKAWINAN LINTAS AGAMA DI KOTA DENPASAR</title>
    <link rel="alternate" href="http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/101" />
    <author>
      <name>I MADE NUHARI ANTA</name>
    </author>
    <id>http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/101</id>
    <updated>2019-10-12T04:12:25Z</updated>
    <published>2018-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PROBLEMA PENDIDIKAN AGAMA HINDU PADA KELUARGA DENGAN LATAR BELAKANG  PERKAWINAN LINTAS AGAMA DI KOTA DENPASAR
Authors: I MADE NUHARI ANTA
Abstract: Menurut UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang pencegahan penyalahgunaan&#xD;
dan/atau penodaan agama, di Indonesia ada enam agama yang diakui secara resmi&#xD;
yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Tingginya&#xD;
tingkat kemajemukan dalam beragama di Indonesia memungkinkan terjadinya&#xD;
perkawinan dengan latar belakang agama yang berbeda atau perkawinan&#xD;
campuran. Di Indonesia, syarat sahnya sebuah perkawinan di atur dalam UU No.&#xD;
1 Tahun 1974 pasal 2 di atur bahwa sebuah perkawinan sah secara hukum apabila&#xD;
dilakukan menurut hukum agama masing-masing pihak. Fenomena pernikahan&#xD;
dengan latar belakang agama berbeda banyak terjadi di Kota Denpasar, sebagian&#xD;
besar sebelumnya beragama non Hindu kemudian setelah menikah mereka&#xD;
kemudian bersepakat untuk memeluk agama Hindu. Pada awal perkawinan&#xD;
konversan merasa sulit untuk beragama Hindu. Pada kehidupan awal rumah&#xD;
tangganya semua pengerjaan upakara di ambil alih oleh mertuanya. Hal tersulit&#xD;
dalam beragama Hindu menurutnya pada saat akan sembahyang karena persiapan&#xD;
ritualnya sangat banyak dan berbagai permasalahan lainya. Didalam keluarga&#xD;
Hindu tugas dan tanggung jawab seorang istri lebih dominan dari pada suami.&#xD;
Selain mengurus rumah tanggga dan anak istri juga bertanggung jawab atas&#xD;
banten dan berbagai sarana upakara keagamaan.&#xD;
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini&#xD;
meliputi (1) Mengapa pendidikan agama Hindu pada keluarga dengan latar&#xD;
belakang perkawinan lintas agama memiliki problema di Kota Denpasar? (2)&#xD;
Bagaimana proses pendidikan agama Hindu pada keluarga dengan latar belakang&#xD;
perkawinan lintas agama yang memiliki problema di Kota Denpasar? (3)&#xD;
Bagaimana upaya pendidikan agama Hindu pada keluarga dengan latar belakang&#xD;
perkawinan lintas agama yang memiliki problema di Kota Denpasa? Penelitian ini&#xD;
menggunakan teori Fenomenologis, teori Kostruktivisme dan teori Behaviorisme.&#xD;
Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumen&#xD;
dengan analisis kualitatif deskriptif interpretatif melalui langkah-langkah reduksi&#xD;
data, klasifikasi data, display data, dan memberikan interpretasi serta mengambil&#xD;
keputusan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada lima permasalahan pokok yang&#xD;
terjadi pada perkawinan dengan latar belakang lintas agama yakni (1)&#xD;
permasalahan upacara dan upakara (2) perbedaan konsep ketuhanan dengan&#xD;
agama sebelumnya (3) masalah penggunaan bahasa lokal (bahasa bali) (4) kurang&#xD;
perhatian dari suami untuk mengajarkan agama Hindu dan (5) permasalahan&#xD;
ekonomi dan tradisi. Proses pendidikan agama Hindu pada keluarga dengan latar&#xD;
belakang perkawinan lintas agama terdiri dari tiga proses yaitu (1) Proses&#xD;
asimilasi (2) proses akomodasi dan (3) proses adaptasi. Upaya pendidikan agama&#xD;
Hindu pada keluarga dengan latar belakang perkawinan lintas agama terdiri dari&#xD;
(1) dukungan dari keluarga (2) pembelajaran sejak dini, dan (3) mencari sumber&#xD;
dan referensi terdekat.</summary>
    <dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PENERAPAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK PADA TK DWIJENDRA DI DESA DANGIN PURI KANGIN,  KECAMATAN DENPASAR UTARA</title>
    <link rel="alternate" href="http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/100" />
    <author>
      <name>IDA AYU PUTU INDAH KARTIKA DV</name>
    </author>
    <id>http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/100</id>
    <updated>2019-10-12T04:04:13Z</updated>
    <published>2018-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENERAPAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK PADA TK DWIJENDRA DI DESA DANGIN PURI KANGIN,  KECAMATAN DENPASAR UTARA
Authors: IDA AYU PUTU INDAH KARTIKA DV
Abstract: Pendidikan karakter tertuju pada terwujudnya manusia masa depan yang&#xD;
menumbuh kembangkan nilai-nilai filosofis dan mengamalkan seluruh karakter&#xD;
bangsa secara utuh dan menyeluruh. Pendidikan juga selayaknya membentuk&#xD;
karakter kearah yang lebih baik. Pada peraturan pemerintah No.55 tahun 2007&#xD;
tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan menyatakan pendidikan&#xD;
agama berfungsi untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman dan&#xD;
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan agama sangatlah penting&#xD;
dalam membentuk karakter manusia, karena didalam pendidikan agama salah&#xD;
satunya pendidikan agama Hindu banyak terkandung ajaran-ajaran etika yang&#xD;
dapat mengarahkan peserta didik memiliki karakter yang baik dalam&#xD;
kehidupannya. Pembentukan karakter seharusnya sudah ditanamkan sejak dini,&#xD;
salah satunya pada saat anak memasuki sekolah di taman kanak-kanak (TK).&#xD;
Namun pada kenyataannya pendidikan karakter yang harus dibentuk dalam diri&#xD;
anak di TK, belum ditanamkan secara mendalam pada anak usia dini. Hal ini&#xD;
dapat dilihat dari kegiatan belajar di Lembaga Paud khususnya pada TK saat ini,&#xD;
yang mana pendidikan di TK cenderung lebih menekankan pendidikan akademik&#xD;
seperti calistung (membaca, menulis, dan berhitung) dari pada pengembangan&#xD;
aspek pendidikan karakter berdasarkan pendidikan agama Hindu. Apabila&#xD;
pendidikan karakter bukan lagi menjadi pioritas utama yang harus diberikan pada&#xD;
anak usia dini baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Maka&#xD;
tidak heran jika anak usia dini saat ini, sudah berani melawan pada orang tua atau&#xD;
guru di sekolah, serta berkelahi dengan temannya sampai saling melukai. Melihat&#xD;
fenomena tersebut perlunya menanamkan pendidikan karakter pada anak usia dini&#xD;
untuk menghindari perilaku yang tidak baik. TK Dwijendra merupakan salah satu&#xD;
TK swasta bernuansa Hindu yang dalam kegiatan kesehariannya sangat kental&#xD;
dengan pendalaman ajaran pendidikan agama Hindu. TK Dwijendra memiliki&#xD;
salah satu tujuan dalam yaitu menanamkan budi pekerti kepada anak didiknya&#xD;
dengan memberikan pelajaran berupa pendidikan agama, serta mampu&#xD;
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Fokus masalah yang dapat&#xD;
dirumuskan dan dikaji dalam penelitian ini yaitu, sebagai berikut; 1) Mengapakah&#xD;
pendidikan agama Hindu dapat membentuk karakter anak pada TK Dwijendra di&#xD;
Desa Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara? 2) Bagaimanakah penerapan&#xD;
pendidikan agama Hindu dalam membentuk karakter anak pada TK Dwijendra di&#xD;
Desa Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara? 3) Bagaimanakah tanggapan&#xD;
masyarakat terhadap pendidikan karakter anak pada TK Dwijendra di Desa&#xD;
Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara.</summary>
    <dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>TARI TOPENG LEGONG DALAM UPACARA DEWA YADNYA  DI PURA PAYOGAN AGUNG KETEWEL DESA PAKRAMAN KETEWEL, KECAMATAN SUKAWATI GIANYAR</title>
    <link rel="alternate" href="http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/99" />
    <author>
      <name>NI PUTU ANIEK LAKSMITASARI</name>
    </author>
    <id>http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/99</id>
    <updated>2019-10-12T03:42:42Z</updated>
    <published>2018-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: TARI TOPENG LEGONG DALAM UPACARA DEWA YADNYA  DI PURA PAYOGAN AGUNG KETEWEL DESA PAKRAMAN KETEWEL, KECAMATAN SUKAWATI GIANYAR
Authors: NI PUTU ANIEK LAKSMITASARI
Abstract: Tari Topeng Legong dalam Upacara Dewa Yadnya di Pura Payogan Aagung&#xD;
Ketewel dijadikan objek penelitian karena tari Topeng Legong merupakan tari Wali yang&#xD;
disajikan pada saat upacara piodalan di Pura Payogan Agung Ketewel, yang jatuh pada hari&#xD;
Buda Kliwon Pagerwesi. Tari ini Sangat di keramatkan oleh masyarakat Ketewel, terbukti&#xD;
hanya ditarikan oleh anak perempuan yang belum akil balik. Dalam pelaksanaan Upacara&#xD;
tarian ini berfungsi sebagai pemuput karya atau penyidakaya dan sebagai penolak bala.&#xD;
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif yang dapat mengangkat tiga&#xD;
permasalahan yakni: 1. Mengapa Tari Topeng Legong dipentaskan dalam Upacara Dewa&#xD;
Yadnya di Pura Payogan Agung Ketewel, 2. Bagaimanakah proses pementasan Tari Topeng&#xD;
Legong dalam Upacara Dewa Yadnya di Pura Payogan Agung Ketewel, 3. Apa fungsi dan&#xD;
makna Pementasan Tari Topeng Legong dalam Upacara Dewa Yadnya di Pura Payogan&#xD;
Agung Ketewel.&#xD;
&#xD;
Untuk mengupas masalah tersebut digunakan sejumlah konsep dan pandangan&#xD;
yang termuat dalam pustaka-pustaka (buku, jurnal, dan sebagainya). Landasan teori yang&#xD;
digunakan adalah teori religi, teori estetika, dan teori simbol.&#xD;
Struktur pertunjukan Tari Topeng Legong terdiri atas pengawit, pengawak, dan&#xD;
pengecet, dengan elemen-elemen pertunjukan seperti halnya gerak tari, busana, tempat&#xD;
pentas, musik iringan serta upakara (sesajen) merupakan peranan yang penting dalam&#xD;
pementasan&#xD;
Tari Topeng Legong dalam seni pertunjukan mengandung nilai agama dan&#xD;
budaya Hindu terutama bagi masyarakat Ketewel seperti halnya nilai ritual, nilai ketuhanan,&#xD;
nilai sosial dan nilai etika.</summary>
    <dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PELESTARIAN TENUN CAGCAG DI KELURAHAN SANGKARAGUNG  KECAMATAN JEMBRANA KABUPATEN JEMBRANA</title>
    <link rel="alternate" href="http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/98" />
    <author>
      <name>I KADEK ARYA DWI PUTRA</name>
    </author>
    <id>http://repo.unhi.ac.id/jspui/handle/123456789/98</id>
    <updated>2019-10-12T03:33:02Z</updated>
    <published>2018-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PELESTARIAN TENUN CAGCAG DI KELURAHAN SANGKARAGUNG  KECAMATAN JEMBRANA KABUPATEN JEMBRANA
Authors: I KADEK ARYA DWI PUTRA
Abstract: Tenun sebagai salah satu bentuk kesenian hampir berkembang di seluruh&#xD;
wilayah pulau Bali salah satu wilayah yang memiliki tradisi tenun yang memiliki&#xD;
kekhasan corak serta masih eksis saat ini adalah diwilayah Kabupaten Jembrana,&#xD;
tepatnya di Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana.&#xD;
Geliat gairah dan optimisme untuk menekuni kembali seni kerajinan tenun&#xD;
tradisional di Sangkaragung dengan sarana Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)&#xD;
baru kelihatan muncul lagi seiring dengan membaiknya situasi dan kondisi negara&#xD;
Republik Indonesia. Perangkat alat tenun bukan mesin (ATBM) cukup banyak.&#xD;
Kain tenun cagcag memiliki fungsi yang sangat penting, selain sebagai pakaian&#xD;
atau pelindung tubuh, juga merupakan bagian dari sarana dan prasarana ritual&#xD;
keagamaan dari kepercayaan masyarakat pendukungnya. Dalam sistem sosial&#xD;
budaya masyarakat tradisional, kain tenun cagcag memiliki keterkaitan sangat&#xD;
erat dengan berbagai aktivitas maupun upacara adat. Pesan moral yang disajikan&#xD;
melalui bentuk-bentuk simbol, sehingga dapat dijadikan tuntunan, tatanan, dan&#xD;
tontonan bagi Masyarakat setempat.&#xD;
Adapun permasalahan yang dibahas antara lain; 1) Mengapakah tenun&#xD;
cagcag di Sangkaragung masih dilestarikan keberadaannya? 2) Bagaimanakah&#xD;
bentuk pelestarian tenun cagcag di Kelurahan Sangkaragung? 3) Apakah&#xD;
implikasi pelestarian tenun cagcag terhadap keberadaan tenun cagcag di&#xD;
Kelurahan Sangkaragung? Data dikumpulakan melalui metode observasi,&#xD;
wawancara, dan studi dokument. Kemudian, data tersebut di atas dianalisis&#xD;
dengan menggunakan Teori Fungsional Struktural, Teori Estetika, dan Teori&#xD;
Semiotika.&#xD;
Hasil penelitian: (1) Yang mendasari sebagian masyarakat Sangkaragung&#xD;
menekuni kerajinan menenun ini adalah karena dapat membantu pendapatan&#xD;
suami dan ingin meneruskan kebudayaan daerah tercinta supaya tetap kekal. (2)&#xD;
Pengrajin kain tenun di Kelurahan Sangkaragung mampu menenun dari ilmu yang&#xD;
didapat dari orang-orang terdekatnya. (3) Dampak, secara etimologi adalah&#xD;
pengaruh kuat yang dapat mendatangkan akibat baik positif maupun negatif, atau&#xD;
dalam perspektif ekonomi berarti pengaruh suatu penyelenggaraan kegiatan&#xD;
terhadap perekonomian.</summary>
    <dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

